Berita Populer: Bagaimana Media Mengatur Narasi di Era Digital

Pendahuluan

Di era digital saat ini, media memiliki pengaruh yang kuat dalam membentuk opini publik dan mengatur narasi. Dari perkembangan teknologi informasi hingga algoritma media sosial, cara kita menerima berita dan informasi telah berubah drastis. Pada tahun 2025, pengaruh media tidak hanya terbatas pada saluran tradisional seperti televisi, radio, dan koran, tetapi juga meluas melalui platform digital. Dalam artikel ini, kita akan menggali bagaimana media mengatur narasi di era digital dan dampaknya terhadap masyarakat.

1. Evolusi Media di Era Digital

1.1 Perubahan Konsumsi Berita

Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara kita mengonsumsi berita juga mengalami perubahan signifikan. Menurut data dari Pekerja Penelitian Digital Global 2025, lebih dari 70% orang dewasa di Indonesia mengakses berita melalui perangkat mobile. Ini berdampak besar pada cara berita disajikan dan dikonsumsi.

Contohnya, berita kini lebih berfokus pada konten visual dan infografis yang mudah dicerna. Platform seperti Instagram dan TikTok mengedepankan video pendek sebagai format berita, sementara Twitter digunakan untuk penyampaian informasi singkat dan viral.

1.2 Dominasi Media Sosial

Media sosial, khususnya, telah mengubah cara orang mendapatkan berita. Facebook, Twitter, dan Instagram tidak hanya menjadi platform berbagi konten, tetapi juga sumber utama informasi. Menurut laporan dari We Are Social, lebih dari 85% pengguna internet di Indonesia aktif di media sosial, menjadikannya sebagai saluran penting untuk distribusi berita.

2. Strategi Media dalam Mengatur Narasi

2.1 Pilihan Kata dan Framing

Media tidak hanya melaporkan berita, tetapi juga memengaruhi bagaimana berita itu dipahami melalui pilihan kata dan framing. Misalnya, penamaan suatu peristiwa bisa memiliki dampak yang signifikan. Sebuah studi dari American Political Science Review menunjukkan bahwa istilah yang digunakan dalam laporan berita dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu isu.

Sebagai contoh, dalam laporan tentang unjuk rasa, media bisa memilih untuk menggunakan istilah “protes damai” atau “kerusuhan”. Pilihan istilah ini akan sangat memengaruhi opini publik. Jika media memilih “kerusuhan”, maka imaji yang ditangkap adalah negatif, dan sebaliknya.

2.2 Pengaruh Algoritma

Algoritma platform media sosial kini memainkan peran besar dalam menentukan jenis berita yang kita lihat. Berita yang paling banyak diinteraksi, apakah itu likes, shares, atau komentar, akan lebih banyak muncul di beranda pengguna. Ini menciptakan efek gelembung informasi (filter bubble), di mana pengguna hanya melihat berita yang sejalan dengan pandangan mereka.

Zeynep Tufekci, seorang peneliti sosial terkemuka, menyatakan, “Algoritma media sosial tidak hanya menyesuaikan informasi untuk pengguna, tetapi juga memengaruhi konteks sosial dan politik di mana informasi itu diterima.”

2.3 Sensasionalisme dan Clickbait

Dengan persaingan yang ketat untuk mendapatkan perhatian audiens, banyak media yang menggunakan teknik sensasionalisme dan clickbait. Judul yang mengandung pernyataan kontroversial atau menggoda sering kali dibuat untuk menarik klik, meskipun isi beritanya bisa jadi tidak sesuai dengan ekspektasi judul.

Hal ini dapat menyesatkan pembaca dan menyebabkan penyebaran informasi yang tidak akurat. Dalam survei oleh Pew Research Center, ditemukan bahwa sekitar 60% orang dewasa sering merasa bahwa berita yang mereka baca tidak sesuai dengan kenyataan.

3. Dampak Terhadap Masyarakat

3.1 Polarisasi Opini

Salah satu dampak negatif dari cara media mengatur narasi adalah polarisasi opini. Ketika media berpihak pada satu sudut pandang dan mengabaikan sudut pandang lainnya, ini dapat menciptakan kekosongan diskusi yang sehat. Dalam konteks Indonesia, isu-isu seperti politik, ras, dan agama sering kali mengundang respons yang sangat emosional.

Menurut Dr. Rudi Zaidi, seorang pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, “Media yang berpihak dapat memperparah perpecahan di masyarakat. Ini menghalangi dialog yang konstruktif dan mendorong mentalitas ‘kami vs. mereka’.”

3.2 Penyebaran Hoaks dan Misinformasi

Di tengah tahun 2025, masalah penyebaran hoaks masih menjadi perhatian utama. Media sosial adalah saluran utama di mana informasi palsu dapat dengan cepat menyebar. Dalam sebuah studi oleh Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), ditemukan bahwa lebih dari 40% berita yang beredar di media sosial adalah hoaks.

Untuk melawan ini, penting bagi konsumen berita untuk lebih kritis terhadap informasi yang mereka terima. Platform mata uang digital dan blockchain sedang dijajaki untuk memverifikasi keaslian informasi sebagai langkah awal untuk mengatasi masalah ini.

3.3 Ketidakpercayaan Terhadap Media

Ketidakakuratan dan bias dalam peliputan berita telah menimbulkan ketidakpercayaan terhadap media. Survei oleh Edelman Trust Barometer menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap media di Indonesia menurun, dengan banyak orang percaya bahwa media hanya melayani kepentingan tertentu.

4. Menjaga Kepercayaan dan Kredibilitas

4.1 Praktik Jurnalistik yang Baik

Jurnalis yang bertanggung jawab perlu memastikan bahwa praktik jurnalistik mereka memenuhi standar etika. Ini termasuk verifikasi sumber, menyajikan informasi dengan akurat, dan memberikan konteks yang diperlukan untuk pemahaman yang lebih baik. Pendekatan ini bertujuan untuk mendorong jurnalisme yang lebih berintegritas.

4.2 Edukasi Media

Edukasi media menjadi hal penting dalam era digital ini. Konsumen berita perlu dilatih untuk mengenali informasi yang valid dan membedakan antara berita yang terpercaya dan yang tidak. Inisiatif ini dapat dilakukan melalui program pendidikan di sekolah atau kursus online.

4.3 Kolaborasi Media dan Teknologi

Kerja sama antara media dan platform teknologi juga sangat penting. Platform seperti Google dan Facebook mulai menerapkan kebijakan untuk memerangi misinformasi, seperti program fact-checking dan label transparansi untuk konten yang dibagikan oleh pengguna.

5. Kesimpulan

Di era digital, media memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk narasi dan opini publik. Dengan memanfaatkan teknologi dan strategi yang canggih, media dapat memengaruhi cara kita melihat dunia. Namun, ini juga membawa tanggung jawab besar.

Dalam menghadapi tantangan seperti hoaks, polarisasi, dan ketidakpercayaan, penting bagi kita sebagai konsumen media untuk menjadi lebih kritis dan cermat. Edukasi media, praktik jurnalistik yang baik, dan kolaborasi antara pihak terkait harus dilakukan untuk memastikan kita tetap terinformasi dengan baik.

Melalui pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana media mengatur narasi, kita dapat berkontribusi pada masyarakat yang lebih berbasis informasi dan lebih baik.


Dengan memahami dinamika media di era digital ini, diharapkan pembaca dapat mengakses berita dengan cara yang lebih bijak dan membuat keputusan yang lebih berinformasi dalam kehidupan sehari-hari.